Tren Rasa Snack Unik sebagai Strategi Bisnis

Dunia kuliner memang tidak pernah habis untuk dibahas karena lidah selalu ingin dimanjakan dengan rasa manis, rasa gurih, rasa asam, rasa getir dan rasa-rasa lainnya. Tak heran jika inovasi dalam dunia kuliner selalu berkembang terutama dalam hal rasa. Tak tertinggal dengan makanan-makanan berat khas restoran atau warung ternyata makanan ringan atau snack pun juga berlomba-lomba dalam hal rasa. Salah satu fenomena yang masih hangat diingatan dan mungkin masih terjadi hingga saat ini adalah boomingnya rasa green tea atau matcha di berbagai makanan termasuk makanan atau minuman ringan dan juga rasa keju khas 'richeese' yang laris manis untuk snack gurih.

Dahulu rasa makanan gurih didominasi oleh rasa tertentu saja seperti rasa ayam, keju, jagung bakar, dan  rumput laut. Begitu pula dengan makanan atau minuman ringan manis didominasi oleh rasa vanila, coklat, dan strawberry. Seiring waktu ada beberapa rasa yang muncul walaupun hanya bersifat musiman namun juga ada yang bertahan seperti rasa green tea dan rasa keju khas 'Richeese' tadi. Nah semakin kesini ternyata jenis rasa semakin banyak macamnya dan semakin unik (baca: aneh). Salah satunya yang sempat booming adalah keripik kentang Chitato rasa Indomie yang sempat ngehits tapi hanya di periode tertentu saja. Setelah itu masih banyak lagi makanan atau minuman ringan dengan rasa-rasa unik seperti keju rasa stroberi, susu rasa kelapa (mirip santan), keripik rasa madu butter, minuman float rasa keju dan masih buanyakkkk lagi.


Banyak dari rasa-rasa yang unik ini disukai oleh konsumen tapi ada juga yang menganggapnya sesuatu yang aneh. Misalnya menurut penulis keju rasa strawberry itu adalah sesuatu yang menimbulkan gumaman "produk apaan sih?" atau susu rasa kelapa yang mirip santan (tulisannya sih coconut delight) buat saya juga sesuatu yang membuat berpikir "what's the maksud?" tapi untuk orang lain bisa saja rasa ini adalah rasa yang enak, semua tergantung selera. Namun yang jadi pertanyaan adalah mengapa banyak industri yang mau gambling dengan meluncurkan produknya dengan rasa-rasa unik tersebut yang beberapa diantaranya bahkan dianggap "too much" oleh kebanyakan orang. Ternyata dibalik semua rasa-rasa yang unik ini ada strategi bisnisnya.

Ada lima keuntungan bagi industri makanan yang menggunakan rasa sebagai strategi bisnis. Pertama, rasa dapat memastikan diferensiasi merek diantara produk-produk yang sejenis. Jika sebuah produk dapat menawarkan rasa yang berbeda apalagi bisa menjadi hak milik, walaupun untuk waktu yang singkat, dapat memberikan keuntungan dalam pemasaran. Misalnya produk Chitato rasa Indomie goreng, walaupun cuman sebentar masa jayanya tapi sudah sangat berhasil mengangkat nama Chitato dan ini merupakan hal penting dalam pemasaran apalagi persaingan produk keripik kentang sangat ketat.

Kedua, rasa bisa menjadi alasan konsumen dalam memilih suatu produk dari produk lainnya. Jika suatu merek memiliki rasa yang unik, ini dapat mendorong keputusan konsumen dalam memilih produk tersebut. Misalnya saya jatuh cinta pada rasa coklat susu Ultramilk, jadi saat saya mau beli susu coklat pasti saya memilih produk Ultramilk, namun untuk susu vanila saya jatuh cintanya pada susu Indomilk jadi ketika membeli susu vanila maka pilihan saya jatuh pada Indomilk.

Ketiga, rasa dapat membuat bisnis yang terus berulang dan konsisten. Jika rasa yang dipilih atau diciptakan adalah rasa yang dapat membuat konsumen 'kecanduan' maka ini dapat membawa konsumen untuk kembali lagi dan lagi. Dalam hal ini emosi konsumen memainkan peran penting untuk menentukan apakah suatu rasa dapat membuat 'kecanduan', biasanya rasa yang seperti ini adalah rasa yang betul-betul menimbulkan kepuasan atau dapat memenuhi keinginan konsumen terhadap sesuatu hal. Contohnya adalah Indomie rasa iga penyet, rasa ini cukup mewakili rasa khas iga penyet dan banyak konsumen yang menyukainya karena terpuaskan atas rasa dan aroma iga penyet yang kuat. Contoh lainnya adalah rasa green tea dan rasa keju khas 'Richeese' yang banyak membuat banyak orang kecanduan. Richeese bahkan banyak mengeluarkan produk dengan rasa keju serupa sampai dengan membuka gerai makan fastfood ayam goreng berbumbu keju.

Keempat, rasa bisa menjadi tolak ukur dalam menentukan harga yang lebih tinggi. Ketika terdapat rasa yang betul-betul berbeda, harga produk bisa dinaikkan melebihi harga kompetitor. Contohnya adalah Chitato rasa Indomie goreng ketika baru pertama kali dipasarkan harganya lebih mahal.

Kelima, kreativitas rasa ternyata memungkinkan untuk membantu menjual produk tambahan. Contohnya adalah hot and cheesy chicken dari KFC dimana KFC mengeluarkan produk ayam baru yakni ayam crispy pedas berlumur saus keju, namun selain ayam ini KFC juga menjual minuman rasa keju berupa creeme cheese float. Walaupun bisa dibeli terpisah tapi banyak sekali konsumen yang memesan keduanya karena tertarik dan penasaran dengan rasa kejunya termasuk saya yang biasanya ke KFC cuman beli ayamnya saja jadi ikutan beli minuman rasa kejunya.

Jadi jelas sudah terlepas dari Anda suka atau tidak suka dengan suatu rasa yang diluncurkan produsen makanan atau minuman tertentu dan terlepas apakah rasa ini akan bertahan lama atau tidak, ini merupakan strategi bisnis yang menguntungkan.

Postingan terkait: