Jalan-jalan ke Semarang

Jika sedang membicarakan kota-kota besar di Jawa untuk dijadikan tujuan wisata biasanya kita langsung tertuju ke Jogja, Bandung, atau Jakarta. Belum banyak yang menjadikan Semarang sebagai tujuan utama jalan-jalan dan wisata padahal kota yang juga merupakan salah satu metropolitan terbesar ini menyimpan begitu besar potensi wisata yang sangat unik dan menarik. Kota yang merupakan ibu kota sekaligus kota terbesar di provinsi Jawa Tengah ini merupakan kota yang layak masuk perhitungan dunia kepariwisataan di Indonesia bahkan Asia. Memang perlu diakui sarana dan fasilitas dalam hal kepariwisataan di Semarang masih kalah dari Jogja atau Bandung, ini memang karena kota yang mempunyai julukan kota Atlas ini lebih dipersiapkan menjadi kota industri, perdagangan dan jasa seperti halnya Jakarta atau Surabaya.


Namun kota Semarang ini punya kartu as yang tidak dimiliki kota- kota lain di Jawa dan Indonesia yakni keunikan budaya dan sejarah. Kalau boleh membandingkan, dalam hal pariwisata kota Semarang memiliki potensi yang mirip dengan kota Malacca, Malaysia, hanya saja memang Semarang belum disiapkan secara maksimal menjadi kota wisata dan ini berbeda jauh dengan Malacca yang sudah sangat mapan dan terdepan dalam hal pariwisata bahkan di lingkup global. JIka Anda penasaran dengan potensi pariwisata Semarang, cobalah jalan-jalan atau mampir ke kota yang terletak di tengah jalur pantura Jawa ini dan berikut ini adalah beberapa tujuan wisata yang perlu Anda kunjungi.

Kota lama Semarang
Kota lama Semarang adalah harta terpendam dan kartu as yang dimiliki Semarang dalam hal pariwisata. Kawasan yang terdri dari banyak sekali bangunan Belanda ini betul-betul mempunyai potensi yang sengat besar, sekali lagi sangat besar untuk menjadikan Semarang rajanya wisata di Jawa. Kota lama ini adalah suatu kawasan yang menjadi pusat perdagangan pada abad 19-20. Kawasan ini disebut juga Outstadt, luasnya sekitar 31 hektar dan terpisah dengan daerah sekitarnya sehingga nampak seperti kota tersendiri serta mendapat julukan "Little Netherland". Kota lama merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan bisnis modern. Di tempat ini ada banyak sekali bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan mempunyai sejarah kolonialisme di Semarang. Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan di benua Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa dan tentunya memiliki keindahan dan keunikan yang sangat tinggi.




Sayangnya saat ini mayoritas dari bangunan-bangunan tersebut banyak yang tak terurus, memang ada beberapa bangunan yang masih terawat dan fotogenik seperti Gereja Blenduk dan Stasiun kereta api Semarang Tawang, ada pula yang menjadi restoran atau tempat lainnya yang diurus oleh perorangan/swasta, namun selebihnya banyak sekali yang penampakan bangunannya sudah lusuh, kuno, bahkan menyeramkan. Penulis punya pengalaman horor saat keliling menggunakan taxi di kota lama bersama rombongan keluarga, saya penasaran dengan kisah mistis dan diajak memasuki sebuah lorong kecil di kawasan ini yang gelap dan tak terurus yang menurut sopir taxi di lokasi ini banyak penghuni dunia lain, dan benar saja waktu melewatinya kami merasakan panas dan merinding di punggung secara tiba-tiba seperti dioles balsem dan tentunya kami ketakutan dan segera meminta sopir taxi keluar dari lorong itu, rasa panas itu bertahan ketika kami sampai hotel bahkan sampai keesokan harinya, anehnya ada satu saudara saya yang ikut di dalam taxi dan tidak ketakutan dan tidak merasakan panas, mungkin benar kata orang kalau manusia sudah takut duluan justru jin makin 'menyerang', yang jelas ini benar-benar pengalaman tak terlupakan. Bagi yang suka uji nyali silahkan saja wisata malam di lokasi seperti ini, kalau saya sih tidak menyarankan #kapok. Sebenarnya bangunan-bangunan kuno ini jika "direstorasi" dan di "make over" habis-habisan akan menjadi kawasan yang luar biasa indah seperti halnya kawasan di Eropa dan kawasan seperti ini sangat sulit di temui di tempat lain bahkan di Asia. Kota lama Jakarta pun menurut saya masih kalah indah dengan kota lama Semarang. Mudah-mudahan suatu saat kawasan kota lama ini bisa menjelma menjadi kawasan wisata bernuansa Eropa vintage yang dapat diandalkan.

Klenteng Sam Poo Kong
Objek wisata ini merupakan lokasi yang wajib dikunjungi ketika berada di Semarang. Objek wisata ini kental dengan budaya Tionghoa, tentu ini tidak aneh karena selain budaya Jawa, kota ini memiliki budaya TIonghoa yang cukup kental. Kelenteng ini adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi "marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an". Secara sejarah tempat ini kental dengan budaya Islam karena Cheng Ho Adalah seorang muslim, namun tempat ini juga tempat bersembahyang serta tempat untuk berziarah terutama untuk umat Kong Hu Cu atau Tau. Menurut cerita, Laksamana Cheng Ho sedang berlayar melewati Laut Jawa, namun saat melintasi laut ini, banyak awak kapalnya yang jatuh sakit, kemudian ia memerintahkan untuk membuang sauh. Kemudian merapat ke pantai utara semarang untuk berlindung di sebuah goa dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mengalami proses pendangkalan yang di akibatkan adanya proses sedimentasi sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara. Konon, setelah Cheng Ho meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan menikah dengan penduduk setempat. Cheng Ho memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam, di Klenteng ini juga terdapat Makam Seorang Juru Mudi dari Kapal Laksamana Cheng Ho. Yang membuat menarik dari lokasi ini adalah arsitektur khas Tionghoa yang begitu kental dan megah.






Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan masjid provinsi bagi provinsi Jawa Tengah. Masjid yang sangat megah ini memiliki gaya arsitektur yang sangat unik, indah dan tentunya fotogenik karena memiliki gaya arsitektural campuran Jawa, Islam dan Romawi. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter. Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter. Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam). Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Lantai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Ini sangat menarik karena wisata menara seperti ini masih jarang di Indonesia. Jika Anda datang kesini saat musim liburan siap-siap antri panjang untuk naik menara ini.




Lawang Sewu
Gedung ini adalah landmarknya kota Semarang, dulunya merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein. Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak, meskipun kenyataannya, jumlah pintunya tidak mencapai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang). Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi. Saat ini bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero, dan saat ini merupakan museum kereta api, bagi Anda para pecinta kereta api wajib untuk mengunjungi museum ini untuk mengetahui sejarah perkeretaapian Indonesia karena perkeretaapian di negeri ini dimulai di Semarang.







Yang juga menarik dari Lawang Sewu adalah urban legend yang banyak menceritakan bahwa gedung ini sebagai gedung angker dan memiliki banyak cerita mistis. Gedung ini sempat naik daun ketika dulu acara uji nyali milik salah satu stasiun TV swasta mengambil tempat ini sebagai lokasi uji nyali dan terdapat penampakan yang sangat jelas tertangkap kamera dan tentunya langsung menjadi buah bibir. Kalau tidak salah episode uji nyali ini mendapat penghargaan di salah satu event internasional level Asia. Bahkan National Geographic memasukan gedung ini dalam acara "I Wouldn't Go in There" sebagai salah satu dari 6 lokasi paling menyeramkan di Asia. Tentunya tidak seperti acara uji nyali, National Geographic mengangkat urban legend ini dalam konteks sejarah dan sains, dan khusus episode Lawang Sewu ini tidak lulus sensor di Indonesia sehingga tidak tayang :) nah... kalau penasaran dengan Lawang Sewu mending segera capcus ke Semarang.

Simpang Lima
Seperti halnya kota-kota di Jawa pada umumnya, Semarang memiliki alun-alun dan di kota ini letaknya di Simpang Lima. Simpang LIma adalah sebuah lapangan yang berada tepat di pusat kota dan disebut juga Lapangan Pancasila. Simpang lima merupakan pertemuan dari lima jalan utama di Semarang yang menyatu. Di sekitarnya berdiri hotel-hotel berbintang dan pusat perbelanjaan. Lapangan ini merupakan pusat keramaian warga Semarang. Jika malam hari Anda bisa mencoba kendaraan-kendaraan sepeda atau becak unik yang berhiaskan lampu-lampu warna-warni. Anda juga bisa mencoba street food seperti tahu gimbal khas Semarang. Simpang Lima dijadikan sebagai pusat Alun-alun Semarang berdasarkan atas usulan Presiden RI pertama kali yaitu Ir. Soekarno dengan alasan Pusat alun-alun yang semula berada di Kawasan Kauman telah beralih fungsi menjadi Pusat Perbelanjaan. Saat ini Lapangan Pancasila sudah menjadi landmark kota Semarang merupakan ruang terbuka yang biasa digunakan oleh masyarakat Semarang untuk beraktifitas. Kota Semarang sendiri menjadi identik dengan Simpang Lima, karena pusat kegiatan dan keramaian berada disini. Seperti halya alun-alun di kota lainnya, lapangan Simpang ini biasanya pada hari Minggu di padati oleh pengunjung yang ingin berolahraga, jalan-jalan, dan aktivitas lainnya.


Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong
Vihara ini juga dikenal dengan nama Vihara Buddhagaya merupakan salah satu tempat ibadah agama Buddha. Komplek Vihara ini terdiri dari dua bangunan induk utama yaitu Pagoda Avalokitesvara dan Dhammasala serta beberapa bangunan lain. Pagoda Avalokitesvara adalah bangunan yang mempunyai nilai artistik tinggi, dengan tinggi mencapai 45 meter dan ditetapkan sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Di dalamnya terdapat patung Dewi Kwan Im dengan tinggi lima meter. Sedangkan Dhammasala terdiri dari dua lantai yang mana lantai dasar digunakan sebagai ruang aula serbaguna untuk kegiatan pertemuan dan lantai atas digunakan untuk upacara keagamaan yang terdapat patung Sang Buddha. Pada mulanya Vihara Buddhagaya hanya digunakan sebagai tempat ibadah. Namun, dengan melihat arsitektur bangunan yang sangat kental dengan etnik Tiongkok dan Thailand, sehingga akhirnya Vihara ini juga dikembangkan menjadi obyek dan daya tarik wisata. Berbeda dari destinasi wisata yang disebutkan sebelumnya yang terletak dekat dari pusat kota, lokasi vihara ini cukup jauh dari pusat kota Semarang, sekitar 30 atau 45 menit, namun destinasi ini wajib dikunjungi karena di Indonesia jarang ditemui wisata pagoda, bangunannya betul-betul indah.







Lumpia Semarang
Lumpia semarang adalah makanan semacam spring roll atau rollade yang berisi rebung, telur, dan daging ayam atau udang. Cita rasa lumpia semarang adalah perpaduan rasa antara Tionghoa dan Jawa karena pertama kali dibuat oleh seorang keturunan Tionghoa yang menikah dengan orang Indonesia dan menetap di Semarang, Jawa Tengah. Makanan ini mulai dijajakan dan dikenal di Semarang ketika pesta olahraga GANEFO diselenggarakan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Konon makanan spring roll jenis lumpia ini hanya ditemukan di Indonesia dan Filipina.


Sumber: Pengalaman pribadi dan tentunya Wikipedia :)

Postingan terkait: