Jalan-jalan ke Museum Taman Prasasti

Jakarta memiliki potensi yang sangat besar sebagai tujuan wisata yang menonjol. Wisata yang paling tersohor di kota ini adalah wisata belanja, wisata budaya populer, dan wisata bisnis. Ini artinya kota ini menjadi magnet wisatawan karena mal-malnya, event-eventnya (seperti pameran, pertunjukan musik dll), dan peluang bisnisnya yang sangat luas. Tapi lama kelamaan rasa jenuh bisa muncul jika tiap saat hiburan yang disuguhkan adalah hiburan-hiburan modern dan populer yang biasanya mahal dan jauh dari keteduhan hati. Sekali-kali warga Jakarta perlu mencari sisi lain dari Jakarta dimana kita bisa mendapatkan atmosfer yang berbeda. Salah satu tempat yang mungkin bisa dijadikan pilihan adalah jalan-jalan ke Museum Taman Prasasti.


Saya yakin dari sekian banyak warga Jakarta dan sekitarnya pasti masih banyak yang belum pernah mendengar nama Museum Taman Prasasti, Padahal museum ini terletak tepat di tengah-tengah kota Jakarta. Lalu apa yang menarik dari museum ini? Apa yang bisa dilihat-lihat ketika jalan-jalan ke sini? Jawabannya adalah pemakaman .... Jreng-jreng pasti banyak orang enggan dan berpikir "ngapain jalan-jalan kok ke kuburan" eits tunggu dulu, Museum Taman Prasasti memang betul adalah sebuah area pemakaman, tapi pemakaman ini sungguh berbeda dari kebanyakan pemakaman. Museum ini memiliki berbagai macam nisan yang mayoritas bergaya kolonial Belanda yang sangat indah dan penuh seni. Bagi Anda yang suka budaya, keindahan, seni apalagi sejarah dan fotografi maka wajib untuk mengunjungi museum ini. Tidak perlu takut, walaupun berupa areal pemakaman namun sudah lama sekali tidak aktif dan bentuknya pun seperti taman dan ditambah lagi letaknya yang berada di pusat kota Jakarta.



Museum Taman Prasasti didirikan di bekas pemakaman kuno yang telah beroperasi sejak tahun 1795 yang dikenal sebagai Kebon Jahe Kober. Dahulu pemakaman ini diperuntukkan bagi para bangsawan dan pejabat tinggi Belanda pada masa VOC berkuasa di Batavia, namun seiring dengan waktu juga dipergunakan oleh umum terutama mereka yang beragama nasrani. Sejak tahun 1975, pemakaman ini ditutup dan kemudian dipugar dan diresmikan penggunaannya sebagai museum pada tahun 1977 oleh Gubernur DKI kala itu, Bapak Ali Sadikin. Pada Agustus tahun 2003 museum yang terletak di Jl. Tanah Abang I No. 1 Jakarta Pusat ini bergabung dengan Museum Sejarah Jakarta dalam satu manajemen.

Museum Taman Prasasti menjadi bukti sisa pemakaman umum dari akhir abad ke-18, dengan koleksi nisan makam abad ke-16 dan ke-17. Museum ini juga sangat berharga sebagai tempat yang memberi kesaksian mengenai komposisi penduduk Batavia yang berasal dari seluruh dunia. Anda akan menemukan beberapa nama yang dituliskan di nisan berasal dari seluruh dunia seperti Amsterdam, Brooklyn (AS) dsb. Nisan dan arsitektur yang ada di museum ini sangat menarik karena bergaya klasisisme, neo-gotik, dan Hindu-Jawa.







Di museum ini pengunjung dapat mempelajari latar belakang orang yang disebut pada nisan dan kaitannya dengan sejarah kota Jakarta. Sekarang ini lokasi museum juga ditumbuhi berbagai pohon yang rindang sejuk dan damai karena selain fungsi preservasi nilai historik, museum ini juga memiliki fungsi sosial dan pelestarian alam, dimana taman yang luas ini difungsikan sebagai paru-paru kota dan juga fungsi sosial lainnya.










Postingan terkait: