Bahasa Daerah pada Papan Nama Jalan di Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat multikultur karena memiliki beraneka budaya mulai dari budaya Jawa, Sunda, Melayu, Minangkabau, Batak, Dayak, Bali, Bugis, Papua, Tionghoa dsb. Keanekaragaman budaya ini terjadi karena budaya asli Indonesia yang banyak dan ditambah pengaruh dari luar mengingat negeri ini terletak di jalur perdagangan yang ramai dan semua keanekaragaman budaya ini telah menghasilkan berbagai wujud keanekaragaman khas Indonesia seperti kuliner nusantara, adat, bahasa dan sebagainya.

Bicara tentang bahasa ternyata Indonesia adalah negeri dengan jumlah bahasa asli yang sangat banyak. Memang Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa nasional dan digunakan oleh seluruh warga Indonesia terutama dalam lingkup formal, namun sebagian besar warga negara Indonesia menggunakan bahasa Ibu (mother tounge) dalam sebagian aktivitas di kehidupan sehari-hari. Bahasa Ibu ini sering kita sebut juga dengan bahasa daerah walaupun belum tentu merujuk ke suatu daerah tertentu mengingat persebaran dan percampuran suku di seluruh daerah di Indonesia sudah terjadi sejak lama.

Bahasa ibu ini ternyata juga memiliki bentuk penulisan dan aksara sendiri. Ya betul sekali, huruf latin atau alfabet yang saat ini dipakai oleh bangsa kita merupakan bentuk adopsi setelah mendapat pengaruh dari barat. Bila Anda cermati semua negeri di Asia memiliki bentuk huruf atau aksara sendiri seperti huruf Kanji, Mandarin, Thai, Hindi dsb. Sebenarnya Indonesia juga sama, dulunya orang Indonesia menggunakan tulisannya masing-masing seperti huruf Jawa, Sunda dsb namun karena negeri kita dan beberapa negara tetangga terletak di persimpangan dunia maka pengaruh multikukturalisme lebih terasa daripada wilayah lainnya di Asia.

Tulisan-tulisan atau huruf-huruf bahasa Ibu atau bahasa daerah saat ini sudah semakin jarang dipakai, namun uniknya kita masih bisa melihat huruf-huruf ini di papan nama terutama nama jalan di berbagai kota di Indonesia. Penggunaan huruf atau aksara bahasa Ibu ini diletakan di bawah huruf latin yang merupakan huruf yang dipakai dalam Bahasa Indonesia. Di bawah ini rinciannya.


Tulisan Huruf Jawa di Yogyakarta
Budaya Jawa adalah salah satu budaya terbesar di Indonesia dan Yogyakarta adalah salah satu pusat budaya Jawa. Di kota ini Anda dapat melihat bahwa tulisan huruf Jawa dijumpai di semua jalan di kota ini termasuk pada papan nama jalan yang paling terkenal yakni Jalan Malioboro. Bisa dibilang kota Yogyakarta adalah perintis dan yang paling awal dalam penggunaan papan nama jalan dengan penambahan huruf asli budaya setempat. Selain di Yogyakarta, tulisan huruf Jawa juga dipakai di papan nama jalan di kota Surakarta yang merupakan salah satu kota dengan budaya Jawa paling kental.


Tulisan Huruf Sunda di Bandung
Masih berada di Pulau Jawa, kota Bandung juga menggunakan tulisan huruf asli daerah yakni huruf Sunda di beberapa papan nama jalan. Seperti kita ketahui Bandung adalah ibu kota Jawa Barat yang merupakan tanah Sunda. Sayangnya muncul isu bahwa beberapa penulisan huruf Sunda tidak tepat dan bunyinya tidak sama dengan huruf latin. Mudah-mudahan tulisan ini bisa segera diperbaiki. Selain kota Bandung, kota Bogor juga menambahkan huruf Sunda dalam penulisan papan nama jalan.


Tulisan Huruf Melayu di Pekanbaru
Kota Pekanbaru di Provinsi Riau merupakan salah satu kota paling multikultur di Indonesia. Kota terbesar dari salah satu provinsi terkaya di Indonesia ini dihuni oleh berbagai suku dan suku asli di wilayah ini adalah Melayu yang menggunakan huruf Jawi sebagai tulisannya. Huruf Jawi atau huruf Melayu ini adalah tulisan Arab gundul dengan pengucapan Bahasa Melayu. Tulisan huruf Jawi ini dijumpai di papan nama jalan diseantero Pekanbaru bahkan di seluruh Riau.


Tulisan Huruf Tionghoa di Bagansiapiapi
Masih berada di Provinsi Riau, Bagansiapiapi memiliki keunikan tersendiri karena budaya Tionghoa sangat terasa kental di kota ini. Kota yang pernah menjadi penghasil ikan terbesar di Indonesia ini menggunakan tulisan huruf Tionghoa di papan nama jalan selain juga menggunakan huruf latin dan huruf Melayu. Uniknya lagi jika papan nama jalan di Indonesia umumnya berwarna hijau dengan warna tulisan putih, di kota ini papan nama jalan berwarna kuning dengan warna tulisan hitam, sungguh unik.


Tulisan Huruf Bali di Denpasar
Untuk mendukung keberadaan Kota Denpasar sebagai kota berwawasan budaya, pemasangan papan nama jalan juga menjadi pertimbangan salah satunya dengan penambahan tulisan huruf Bali. Saat ini peremajaan papan nama jalan di kita pariwisata dan budaya ini telah menggunakan penambahan huruf Bali. Huruf yang dipakai di papan nama jalan Denpasar ini cukup mirip dengan huruf yang dipakai di Yogyakarta, hal ini tidak aneh karena huruf Bali berkerabat dekat dengan dengan huruf Jawa.


Tulisan Huruf Lontara di Makassar
Kota terbesar di Sulawesi sekaligus Indonesia bagian timur ini menggunakan huruf Lontara pada papan nama jalannya. Huruf Lontara merupakan aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Konon aksara ini banyak dipakai pada jaman Kerajaan Gowa-Tallo. Huruf khas Makassar ini unik karena berbentuk siku seperti tanda staccato dalam musik (^) maupun kebalikannya dan variasi dari keduanya. Penulisan nama jalan dalam aksara setempat ini hanya berlaku di kota Makassar saja dan belum diterapkan di daerah lain di Sulawesi Selatan. Di Makassar sendiri belum semua jalan diberikan huruf Lontara di sebelah bawah huruf latin.


Tulisan Huruf Hangeul di Bau Bau
Di Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara tepatnya di kota Bau-bau, terdapat sebuah suku, yakni Suku Cia Cia, yang menggunakan huruf Hangeul yang merupakan huruf abjad yang digunakan di Korea untuk menuliskan bahasa daerahnya. Suku Cia Cia menggunakan huruf Hangeul untuk melestarikan bahasa daerahnya. Bahasa Cia Cia jika ditulis dalam huruf latin banyak kata-kata yang tidak dapat ditulis dan jika ditulis dengan huruf Arab gundul akan berubah maknanya. Untuk mencegah punahnya bahasa lokal ini, maka huruf Korea ini yang digunakan untuk menuliskannya. Penggunaan huruf ini juga terlihat di papan nama jalan kota ini.


Tulisan Bahasa Belanda di Malang
Kota Malang memiliki papan nama jalan yang juga unik. Belum lama ini papan nama jalan di kota ini dipercantik dengan tambahan tulisan masih dalam huruf latin namun menggunakan Bahasa Belanda. Pada zaman Belanda dulu, tepatnya pada tahun 1924 - 1928, nama jalan di Kota Malang banyak yang mirip dengan nama yang sekarang. Bedanya tentu saja terletak pada penggunaan imbuhan -straat, -weg, atau -plein pada akhir katanya. Jika diartikan dalam Bahasa Inggris, straat berarti street, weg berarti road, dan plein berarti square. Penggunaan Bahasa Belanda mempunyai nilai dan hubungan sejarah berdirinya kota Malang. Dengan adanya papan nama ini masyarakat dan pengunjung kota Malang seakan diajak kembali ke jaman dahulu.

Postingan terkait: