7 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Saat ini sedang hangat dibicarakan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung dimana peletakan batu pertamanya telah dilakukan oleh Presiden Jokowi hari Kamis (21/1/2016). Dengan dimulainya pembangunan infrastruktur untuk kereta berkecapatan tinggi atau high-speed rail (HSR) ini menandakan bahwa mimpi Indonesia untuk memiliki kereta seperti Shinkansen atau kereta peluru di Jepang dan negara maju lainnya sebentar lagi akan terwujud. Namun pro-kontra banyak bermunculan mengenai pembangunan kereta cepat ini terkait beberapa isu terutama mengenai urgensinya apakah Jakarta-Bandung betul-betul membutuhkan kereta berkecapatan tinggi atau tidak.

Kereta di Palembang yang desainnya mirip kereta cepat (referensi gambar klik disini)

Tulisan ini tidak akan membahas masalah tersebut. Disini akan diulas mengenai 7 hal yang perlu diketahui berkaitan dengan kereta cepat Jakarta-Bandung diluar isu politik dan pro-kontra.

1. Kereta ini akan menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara, kelima di Asia Timur Raya dan ketujuh di seluruh benua Asia
Di kawasan Asia Tenggara belum ada negara yang memiliki jalur kereta cepat. Jika kereta cepat Jakarta-Bandung ini selesai maka jalur ini akan menjadi jalur kereta cepat pertama di Asia Tenggara. Dalam sejarah perkeretaapian Indonesia memang sebenarnya memiliki banyak keunggulan terutama di kawasan Asia. Saat Indonesia masih berbentuk Hindia Belanda (Dutch East Indies) pada waktu itu wilayah ini memiliki perkeretaapian uap yang termasuk paling maju di zamannya. Pada era dimulainya kereta diesel dan bahkan kereta listrik di sekitar Jakarta waktu itu Indonesia adalah salah satu pionirnya di kawasan Asia. Jika kereta cepat Jakarta-Bandung terealisasi maka ini cukup mempertahankan prestasi perkeretaapian Indonesia di Asia. Di seluruh Asia sendiri saat ini ada 6 negara yang sudah menggunakan kereta cepat yakni Jepang, Korea, Taiwan, Tiongkok, Turki, dan Uzbekistan. Ini menarik karena negara yang masih berkembang seperti Turki dan Uzbekistan pun memiliki kereta cepat. Perlu diingat juga bahwa banyak negara Asia lainnya yang sedang merencakan proyek serupa seperti Iran, Malaysia, Singapura, dsb.


2. Kereta ini bisa 3 kali lebih cepat dari kereta Argo bahkan lebih
Saat ini kereta api tercepat di Indonesia adalah kereta api berkelas Argo terutama kereta Argo yang melintasi pantura Jawa dengan jalur yang relatif datar dan minim belokan dan yang kelasnya paling tinggi saat ini adalah Argo Bromo Anggrek relasi Jakarta-Surabaya dimana kecepatan kereta ini antara 70-120 km/jam (biasanya 100 km/jam sudan paling maksimum). Sedangkan kereta kecepatan tinggi memiliki kecepatan di atas 200 km/jam, biasanya antara 250 - 300 km/jam. Jika kereta cepa Jakarta-Bandung terwujud maka kecepatannya kurang lebih sekitar 3 kali dari kecepatan kereta Argo atau lebih. 

3. Jakarta-Bandung bisa ditempuh di bawah 1 jam
Waktu tempuh Jakarta-Bandung tanpa via tol adalah sekitar 5 jam, via tol cipularang sekitar 2,5 jam (jika lancar), sedangkan jika menggunakan kereta Argo Parahyangan waktu tempuhnya sekiat 3-3,5 jam. Jika kereta cepat Jakarta-Bandung terwujud perjalanan relasi dua kota besar ini bisa ditempuh kurang dari 1 jam (mungkin sekitar 35-45 menit). 

4. Definisi kereta cepat akan selalu berubah sesuai zaman
Kereta dengan kelas paling tinggi relasi Jakarta-Bandng saat ini dimiliki oleh Argo Parahyangan yang kecepatannya sekitar 55-100 km/jam. Kereta Parahyangan ini menjadi kereta tercepat di lintas Jakarta-Bandung di zamannya. Begitu pula jika kereta cepat ini terwujud maka akan menjadi kereta tercepat relasi Jakarta-Bandung di zaman ini. Saat ini rekor kecepatan dunia untuk kereta beroda dipecahkan pada tahun 1990 oleh kereta Perancis TGV yang mencapai kecepatan 515 km/jam, sedangkan kereta maglev eksperimen Jepang (kereta non roda) telah mencapai kecepatan 581 km/jam. Jadi mungkin saja jika dibutuhkan pada tahun 2050 nanti dibangun kereta maglev Jakarta-Bandung.

5. Kereta cepat sangat efisien untuk mobilitas manusia
Menurut suatu sumber (klik disini) kereta cepat sangat efisien untuk mobilitas manusia. Jika jalan tol bisa mengakomodasi mobilitas manusia hingga 8000 orang/jam maka kereta cepat bisa mencapai 20000 orang/jam. Untuk dua kota besar yang berjarak nanggung seperti Jakarta dan Bandung dimana mobilitas warga antara kedua kota ini sungguh masif mungkin saja kereta cepat adalah solusi terbaik. Selain itu jika kereta cepat menjadi pilihan utama mayoritas orang maka bisa mengurangi emisi gas kendaraan dan mengembalikan kejayaan perkereta apian Jakarta-Bandung dimana dulu sempat berjaya namun saat ini menurun drastis karena dibukanya Jalan Tol Cipularang beberapa tahun yang lalu. Konon dengan semakin mudahnya mobilitas manusia ke suatu kota besar maka bisa mengurangi kebutuhan space di kota itu.

6. Isu apakah kereta cepat akan menguntungkan secara bisnis pasti bermunculan
Isu-isu apakah kereta cepat betul-betul akan menguntungkan secara ekonomi sangat wajar bermuculan apalagi jika dibangun di negara yang masih berkembang ditambah situasi ekonomi yang kurang menggairahkan. Hal-hal serupa juga terjadi pada rencana-rencana pembangunan kereta cepat lainnya seperti rencana kereta cepat relasi Kuala Lumpur-Singapura. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan diantaranya apakah kegiatan ekonomi terutama yang berlokasi di sekitar stasiun nantinya akan semakin menggeliat atau tidak, apakah keuntungan ekonomi yang diperoleh akan signifikan atau tidak mengingat saat ini sudah ada jalan tol dan jaringan rel berkecapatan standar. Hal yang serupa juga pernah dibahas di world economic forum di link ini.

7. Infrastruktur kereta cepat akan sangat berbeda
Infrastruktur kereta cepat akan cukup berbeda dengan kereta yang biasa. Kereta cepat mengharuskan jalur sebisa mungkin tidak terlalu banyak belokan dan naik turun yang drastis karena itu jalur kereta cepat akan dibangun dengan 3 jenis konstruksi yakni jalur menapak di tanah, jalur layang (elevated), dan jalur bawah tanah (underground). Selain itu jenis kereta yang digunakan pun berbeda, jika selama ini mayoritas perjalanan kereta api jarak jauh di Indonesia dilayani oleh kereta diesel dimana ada lokomotif yang diikuti gerbong-gerbong, maka kereta cepat akan menggunakan jenis electric multiple unit (EMU).

Postingan terkait: