Saya Marah, Saya Benci, dan Saya Sedih

Saya betul-betul marah, benci, dan sedih terhadap kondisi asap yang terus terjadi di Riau, Sumatera, dan wilayah lain di Indonesia. Benar-benar sudah jenuh harus beraktivitas menggunakan respirator tiap hari plus keluhan-keluhan lainnya yang merupakan dampak dari asap.


Entah mengapa masalah asap ini tidak kunjung rampung dan terus berulang-ulang. Tidak seharusnya kejadian seperti ini terus berulang-ulang dan malah semakin kesini semakin parah. Rasa marah, benci, dan sedih tercampur aduk saat bencana asap ini terus-terusan terjadi.

SAYA MARAH karena masih banyak pihak yang terus-terusan membuka lahan dengan cara membakar.
SAYA MARAH karena isu asap tidak pernah ada solusi padahal sudah bertahun-tahun terjadi.
SAYA MARAH karena pihak yang berwenang tidak memiliki solusi yang efektif dan malah lebih mengedepankan solusi hujan saja (kuratif) dan kurang sekali tindakan preventifnya.

 
SAYA BENCI karena asap terus saja muncul apalagi di saat musim kering.
SAYA BENCI karena bencana asap semakin kesini semakin sering sekali terjadi.
SAYA BENCI karena hujan menjadi satu-satunya ‘penolong’ yang diperoleh rakyat padahal ini adalah bencana manusia.

 
SAYA SEDIH karena harus menghirup asap, asap itu bau, bikin batuk, tenggorokan pahit, susah nafas.
SAYA SEDIH karena paparan asap ini tidak kunjung berhenti, tinggal menunggu kapan ini akan jadi sakit kronis paru-paru, selain kesehatan, banyak aktivitas yang lumpuh.
SAYA SEDIH karena hanya hujan yang saat ini bersedia memperpanjang nafas kami, setelah hujan selesai asap pun datang lagi dan nyawa kami kembali digerogoti.


#melawanasap

Postingan terkait: