Habis Gelap Terbitlah Terang

Pasti mayoritas dari kita sudah familiar dengan kalimat 'habis gelap terbitlah terang'. Ya, ini merupakan judul buku yang isinya merupakan kumpulan surat yang ditulis oleh R.A. Kartini. Saya mengenal judul buku ini sejak saya kecil, namun saya tidak pernah tahu apa isi dari buku ini. Setelah mencoba browsing di internet ternyata saya menemukan banyak hal-hal menarik dalam isi buku ini. Buku ini sangat sesuai dengan kehidupan manusia yang tidak lepas dari masalah namun selalu ada jalan untuk menyelesaikan masalah itu hingga saat-saat yang membahagiakan datang, seperti terang dari cahaya lentera yang muncul di tengah kegelapan yang kelam.


Menurut saya, makna yang sesungguhnya yang ditekankan bukanlah 'terbitnya terang', namun lebih ke bagaimana manusia harus bersikap saat kondisi 'gelap'. Ada beberapa kutipan dari R.A. Kartini yang sangat bagus yang menggambarkan bagaimana manusia harus bersikap ketika mendapat masalah (dalam kondisi 'gelap'). Hal ini sangat menarik karena di saat ini banyak sekali orang-orang yang berjiwa 'payah', maunya dapat enaknya saja dan tidak mau tertimpa masalah dan cenderung lari dari masalah, padahal masalah adalah bagian yang pasti ada dalam hidup tiap manusia.
Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam. - R. A. Kartini 
Kehidupan manusia pasti ada saatnya penuh masalah (kesedihan, kegalauan, kesusahan, derita dsb), namun juga ada saatnya penuh kebahagiaan. Keduanya berjalan terus menerus dan setiap ada masa kelam pasti akan ada masa bahagianya. Artinya kita tidak boleh putus asa saat dilanda masalah. Saat ini banyak orang yang galau berlarut-larut saat tertimpa masalah-masalah seperti percintaan, perekonomian, perkuliahan, pekerjaan, rumah tangga dll. Hal ini karena mereka tidak merasa memiliki harapan bahwa masalah akan terlewati, merasa bahwa cara apa pun pasti tidak berhasil dan cenderung tenggelam dalam larutnya kegalauan sampai ujung-ujungnya merasa bahwa dunia tidak adil. Pemikiran seperti ini harus dibuang jauh-jauh.
Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata "Aku tiada dapat!" melenyapkan rasa berani. Kalimat "Aku mau!" membuat kita mudah mendaki puncak gunung. - R. A. Kartini
Hidup ini penuh tantangan dan tantangan setiap orang berbeda-beda. Tantangan itu relatif, sebuah tantangan bisa jadi berat di mata beberapa orang tapi ringan di mata beberapa orang lainnya atau sebaliknya. Ini karena tiap orang diciptakan berbeda-beda. Ketika seseorang menghadapi tantangan yang berat jangan sekali-kali mengatakan "aku tidak bisa melewatinya", seberat apa pun tantangan harus dilewati dan berkata "aku bisa". Sayangnya banyak sekali orang-orang yang lebih memilih kabur dari masalah dan memilih "jalan pintas" seperti mengambil hak milik orang lain, melakukan tindakan kecurangan bisnis, melakukan pelanggaran-pelanggaran peraturan atau kode etik, dsb.
Salah satu daripada cita-cita yang hendak kusebarkan ialah: Hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya, baik tidak terpaksa baikpun karena terpaksa, haruslah juga segan menyakiti mahkluk lain, sedikitpun jangan sampai menyakitinya. Segenap cita-citanya kita hendaklah menjaga sedapat-dapat yang kita usahakan, supaya semasa mahkluk itu terhindar dari penderitaan, dan dengan jalan demikian menolong memperbagus hidupnya: dan lagi ada pula suatu kewajiban yang tinggi murni, yaitu "terima kasih" namanya. - R. A. Kartini
Seburuk-buruknya kondisi yang sedang dialami jangan pernah sampai menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental baik secara terpaksa atau tidak terpaksa. Hal ini sepertinya sudah luntur di kehidupan sehari-hari, lihatlah saat ini orang gampang marah ketika dalam keadaan kepepet, orang gampang menghina ketika terdesak, orang gampang memukul ketika terancam, orang gampang mencuri ketika terhimpit. Manusia itu diuji ketika dalam kondisi yang tidak menguntungkan bukan saat kondisi yang adem ayem. Semoga kita terhindar dari perbuatan-perbuatan ini.
Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam. - R. A. Kartini
Jangan pernah berhenti bermimpi, jangan pernah berhenti bercita-cita, jangan pernah berhenti untuk memperjuangkan apa yang sebenarnya diinginkan. Jika kita tidak bergerak membangun mimpi kita, maka seseorang justru akan memperkerjakan kita untuk membantu membangun mimpi mereka. Jika kita menyerahkan nasib seperti air mengalir maka dunia akan kejam terhadap kita. Berusahalah, nasib manusia tidak akan berubah sampai dia berusaha. Hal ini sesuai dengan kata-kata motivator yang sedang marak akhir-akhir ini, uniknya kata-kata Kartini ini sudah ada sejak dari beberapa dekade yang lalu.
Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri.. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain. - R. A. Kartini
Saat ini banyak sekali orang munafik yang bermulut besar. Orang seperti ini selalu menasehati orang lain untuk melakukan A, melakukan B dll supaya terhindar dari masalah, namun dia sendiri masih mendapat masalah serupa dan tidak berusaha lepas, bahkan parahnya tidak mau mengakui kalau dia sendiri sedang menderita. Orang sekarang banyak yang gengsi sok sudah bahagia dan sok sudah mapan dan bemulut besar padahal kondisi sebenarnya justru terkekang. Mulailah jujur pada diri sendiri dan mulailah untuk berikhtiar untuk diri dan setelah itu baru tolonglah orang lain.
Tetapi sekarang ini, kami tiada mencari penglipur hati pada manusia, kami berpegangan teguh-teguh pada tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi. - R. A. Kartini
Banyak sekali orang-orang yang lebih suka curhat ke orang lain ketika tertimpa masalah, malah ada yang lebih suka curhat ke media sosial, tapi banyak yang lupa untuk 'curhat' ke Yang Maha Kuasa. Banyak dari kita lupa untuk berdoa dan meminta pertolongan pada Tuhan. Padahal justru ini yang dapat menenangkan hati dan menghilangkan masalah sehingga 'terbitlah terang'.
Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita, semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia. - R. A. Kartini
Kasih sayang harus diutamakan, sikap tenggang rasa, saling menghormati, berjiwa besar dan segala sikap-sikap yang dulu ada di pelajaran PPKn harus benar-benar ditegakan kembali. Saat ini budaya kasih sayang ini sudah luntur. Banyak sekali permusuhan, pertikaian, dendam, iri dll, padahal hal-hal seperti ini justru akan menyiksa diri dan makin lama terjebak dalam gelapnya masalah. Mungkin karena saat ini manusia cenderung memiliki sikap invidualistis, gengsi dan menganggap diri sendiri yang paling sempurna sehingga kasih sayang ini sudah sangat memudar.

Bagaimana? Ternyata keren ya tulisan-tulisan R.A. Kartini. Sebelum 'terbitnya terang' ternyata banyak sekali pelajaran yang diperoleh ketika tertumpa 'gelapnya' masalah. 'Terbitnya terang' hanyalah sebuah hasil yang bisa diperoleh setelah menjalani proses melewati 'kegelapan' dengan benar. Jadi pengen punya bukunya :)

Postingan terkait: