10 Macam Jebakan Diskon

Sama halnya dengan hobi travelling, saat ini hobi shopping juga sedang naik daun. Ditunjang dengan meningkatnya pendapatan masyarakat ditambah dengan lifestyle yang makin beraneka ragam dan sangat bervariasinya ragam barang-barang belanjaan mulai dari yang murah sekali sampai mahal sekali serta dukungan berbagai fasilitas seperti menjamurnya pusat perbelanjaan atau online shopping membuat kegemaran shopping telah menular ke siapa saja.

Salah satu hal yang membuat orang tertarik untuk membelanjakan uangnya demi sebuah barang adalah sale atau obral atau diskon. Tapi sayangnya saat ini banyak sekali diskon-diskon yang menjebak, artinya ada motif tertentu dibalik diskon itu. Ya memang namanya bisnis dan strategi tentu saja ada motif atau alasan-alasan tertentu yang membuat toko mengeluarkan diskon, it's okay, tapi menjadi tidak okay ketika motifnya kelewat batas atau berlebihan. Konsumen biasanya tidak tahu apa motif dibalik diskon, karena itu kita harus mengenal 10 macam jebakan diskon supaya konsumen tidak dirugikan.


1. Harga dinaikkan sebelum didiskon
Legenda yang paling klasik mengenai barang-barang yang didiskon adalah pasti harganya dinaikan terlebih dahulu sebelum didiskon. Sistem diskon semacam ini sangat licik dan melanggar hukum karena tergolong penipuan. Tapi jangan khawatir menurut keyakinan penulis (yang juga seorang shoppaholic) legenda ini sebenarnya tidak banyak terjadi, kalau pun ada mungkin sekarang sedikit apalagi bagi penjual-penjual yang sudah punya nama akan sangat riskan sekali memakai cara ini karena mempertaruhkan nama baik. Tapi ada juga trik baru sejenis yang meresahkan konsumen yakni memunculkan harga tinggi yang dicoret dan ditaruh harga aktual yang lebih rendah di sebelahnya atau di bawahnya yang menimbulkan kesan bahwa harga aktual lebih rendah dari seharusnya, entah ini penipuan atau bukan.

2. Barang stok lama
Barang stok lama adalah motif yang banyak ditemui dalam dunia perdiskonan. Barang semahal apa pun pasti akan habis masa 'trendnya' dan jika sudah tidak ngetrend pastilah tidak laku, barang ini akan dijual dengan harga diskon daripada menumpuk di gudang. Karena itu sering ditemukan istilah cuci gudang atau garage sale. Acara midnight sale yang sedang ngetrend juga sebetulnya adalah cuci gudang. Berhati-hatilah terutama bagi Anda yang masih buta fashion atau tidak update trend seringkali tertipu dengan diskon ini. Tapi banyak juga sih yang tidak peduli, kata orang yang penting mereknya bro.

3. Barang rusak
Stok barang yang sudah rusak (atau sudah dekil sekali) atau merupakan produk reject dari pabriknya sering juga dijual dengan harga diskon. Hal ini berlaku untuk segala jenis barang terutama fashion, peralatan atau elektronik. Kita benar-benar perlu berhati-hati. Jangan sampai kita membeli barang tapi fungsinya sudah tidak utuh misalnya baju yang robek atau mulur, barang pecah belah yang retak dsb. Anda harus benar-benar jeli dan teliti untuk mengecek dimanakah kerusakannya. Jika kerusakannya masih bisa ditolerir dan tidak mengganggu fungsinya silahkan saja dibeli, tapi jika tidak sebaiknya lupakan.

4. Barang hampir rusak (hampir kadaluarsa)
Hampir mirip dengan point sebelumnya namun barang yang ini masih dalam tahap hampir rusak. Contoh yang paling mudah adalah makanan yang hampir kadaluarsa. Makanan seperti ini banyak sekali dijual di supermarket-supermarket dan biasanya diletakan di tempat khusus. Untuk makanan kering biasanya tidak begitu mencolok, namun untuk makanan basah biasanya sudah ada perubahan wujud yang signifikan. Sebenarnya agak membingungkan juga, bukankah seharusnya ritel bisa mengembalikan produk yang hampir kadaluarsa ke produsen?

5. Barang grosiran
Seringkali kita menjumpai barang yang lebih murah harganya jika beli dalam jumlah banyak atau sering disebut grosir. Hal ini sah-sah saja bagi Anda yang memang sedang berencana membeli barang dalam jumlah banyak misalnya untuk dijual lagi atau ada keperluan lain seperti untuk acara hajatan dsb. Namun jika Anda hanya berniat membeli satu atau dua unit barang saja perlu berhati-hati karena banyak orang tergiur untuk membeli lebih supaya dapat potongan, padahal sebenarnya dia tidak membutuhkan itu.

6. Diskon "up to"
Pernahkah Anda melihat poster besar bertuliskan diskon 50% namun jika didekati ternyata terdapat tulisan "up to" yang terselip kecil dalam poster itu? Ini artinya diskon yang diberikan adalah dari 0% sampai 50% dan uniknya seringkali yang 50% itu tidak kita temukan. Yang pasti janganlah terjebak dengan tulisan nominal diskon yang tertera pada poster. Yang jadi patokan adalah harga yang tertera setelah didiskon. Jika tidak ditampilkan jangan gengsi untuk menayakannya ke pramuniaga, jangan sampai Anda baru tahu harganya ketika membayar di kasir.

7. Dicampurnya barang diskon dan tidak diskon
Beberapa barang diskon seringkali disatukan dengan barang non diskon misalnya diletakan dalam rak yang sama dan dipasangi poster diskon. Padahal sesungguhnya hanya sebagian dari barang itu saja yang mendapat diskon namun seolah-olah satu rak seluruhnya mendapat diskon supaya konsumen tertarik. Disini kita perlu berhati-hati dan sekali lagi jangan gengsi untuk bertanya kepada petugas apakah barang tersebut mendapat diskon atau tidak dan pastikan berapa harga setelah didiskon.

8. Diskon 'plus-plus' dan diskon bertahap
Pernahkah Anda melihat poster diskon bertuliskan 50% + 20% atau sejenisnya? Ya saya menyebutnya sebagai diskon 'plus-plus' karena terdapat tanda plus yang sering mengecoh. Diskon 50% + 20% sering disalah artikan ssama dengan 70% atau paling tidak nilainya mendekati padahal ini berbeda dan selisihnya bisa jauh sekali dengan diskon 70%. Sejenis dengan diskon ini adalahi diskon bertahap, misalnya beli barang satu diskon 20% dan beli dua diskon 60%. Konsumen yang tidak hati-hati pasti mengira diskon 80% padahal tidak. Tujuan diskon ini memang untuk mengecoh cara berpikir konsumen dalam menghitung harga.

9. Diskon bersyarat
Diskon jenis ini adalah diskon yang disertai penambahan syarat dan ketentuan yang biasanya membingungkan konsumen. Bentuk sederhananya misalnya beli satu gratis satu (artinya dapat diskon jika beli dua), bentuk lebih kompleksnya misalnya beli gula pasir diskon 50% jika berbelanja Rp 100.000. Konsumen beruntung membeli gula yang biasa dijual seharga Rp 15.000 dengan hanya membayar Rp 7.500. Seandainya total belanja adalah Rp. 107.500 maka diskon Rp 7.500 secara keseluruhan hanya 6.5% dari keseluruhan belanjaan. Karena itu kita harus cermat jika ada syarat dan ketentuan yang berlaku seperti ini.

10. Diskon berkedok perayaan
Ada banyak sekali istilah yang digunakan untuk mengadakan program diskon yang biasanya mengacu pada perayaan-perayaan. Istilah ini digunakan agar seakan-akan diskon adalah momen langka yang hanya berlangsung pada saat tertentu saja. Sebut saja pesta diskon Natal dan Tahun Baru di bulan Desember-Januari, Valentine di bulan Februari, Imlek, diskon libur sekolah & back to school di bulan Juli. Ada lagi, diskon kemerdekaan di bulan Agustus, diskon back to campus di bulan September, serta diskon Ramadhan dan Idul fitri. Masih banyak lagi diskon selingan semacam ulang tahun pusat perbelanjaan, program promo, launching produk baru dan sebagainya. Intinya, ternyata diskon bukanlah momen langka dan tidak sulit untuk dicari. Tidak perlu terburu-buru berbelanja hanya karena diskon saat perayaan tertentu.

Solusinya?

Solusi untuk menghadapi diskon agar dapat terhindar dari jebakan diskon adalah harus waspada, jeli, dan teliti saat berbelanja dan akan sangat baik jika melakukan riset dahulu untuk mengetahui harga wajar terhadap barang-barang yang umum seperti kamera, handphone, dll. Dengan memiliki perbandingan harga dari riset tersebut maka Anda dapat mengetahui berapa kisaran nilai harga asli dari suatu barang sehingga Anda dapat mengambil keputusan yang paling tepat dalam membeli barang.

Perlu dicamkan bagi Anda yang doyan diskon bahwa diskon yang benar-benar tanpa motif itu memang ada (walaupun jarang). Namun perlu diketahui bahwa ini sangat berisiko besar bagi toko tersebut karena beberapa alasan, salah satunya adalah akan mengundang kompetitor lain untuk menyerang. Contoh sederhanya jika Anda ke Mangga Dua ada kesepakatan nilai potongan maximum yang boleh dipakai penjual, jika pembeli menawar potongan harga lebih tinggi dari batasan maximum dan diiyakan si penjual maka penjual barang sejenis lainnya akan marah jika mengetahuinya. Atau bisa juga penjual lain akan melakukan potongan yang serupa yang mengakibatkan nilai barang jadi anjlok dan balik merugikan penjual itu. Hal yang sama juga bisa terjadi di level yang lebih tinggi dan lebih besar seperti di mal-mal.

Mulai saat ini jika Anda melihat diskon, WASPADALAH! WASPADALAH!

Postingan terkait: