Ingin Sepenuhnya Merayakan Hari Raya Idul Fitri

Bagi kita umat Muslim yang sudah merayakan Hari Raya Idul Fitri sejak kecil pasti selalu menanti-nantikan hari ini tiap tahunnya. Ya, hari raya yang juga sering kita sebut sebagai Hari Lebaran ini memang spesial dan tiada duanya.

Apa itu Idul Fitri?

Idul Fitri diterjemahkan dengan kembali kepada fitrah atau kesucian, karena telah ditempa dengan ibadah sebulan penuh di bulan ramadhan. Dan karenanya ia mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah SWT. Idul Fitri juga diterjemahkan dengan hari raya berbuka, dimana setelah sebulan penuh ia berpuasa, menjalan ibadah puasa karena Allah SWT, pada hari Idul Fitri ia berbuka dan tidak berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT.

 

Merayakan Hari Raya Lebaran

Hari Lebaran kita rayakan dengan mengikuti 'ritual-ritual' yang hampir sama tiap tahunnya misalnya salat ied, halal bihalal, pakai baju baru, bagi-bagi angpao, ziarah ke makam, makan ketupat dll dimana setiap daerah atau budaya mungkin memeiliki tradisi atau 'ritual' yang berbeda. Tapi setelah beranjak dewasa lama kelamaan mulai kepikiran sebenarnya Hari Raya Lebaran itu apa makna hakikinya atau makna sejatinya. Sepertinya kok ada sesuatu yang perlu dipikirkan terutama mengenai 'ritual-ritual' yang dilakukan tiap lebaran karena banyak dari 'ritual' itu 'mengaburkan' makna suci dari Hari Lebaran. Dan saya jadi mulai berpikir bagaimana caranya untuk sepenuhnya merayakan Hari Lebaran.

Saya bukan ahli ilmu Agama dan juga bukan ustadz atau orang yang memiliki background pendidikan agama secara khusus, Saya hanyalah netizen yang sering browsing dan googling untuk mencari-cari materi yang sedang membuat saya penasaran. Dan berkaitan dengan Hari Lebaran ini saya juga googling untuk menjawab rasa penasaran saya. Dari hasil googling dan dari hasil bercermin pada diri sendiri (terutama berkaitan dengan 'ritual-ritual' Lebaran yang selama ini dilakukan) saya berkesimpulan bahwa agar bisa memahami makna hakiki Hari Lebaran dan agar bisa sepenuhnya merayakan Hari Lebaran mungkin kita perlu mulai memikirkan dan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini.

1. Saling bermaaf-maafan, apakah inti dari lebaran?

Saling bermaaf-maafan merupakan hal yang sangat positif. Biasanya ucapan maaf lahir dan batin banyak bermunculan saat memasuki Ramadhan dan saat Hsri Lebaran. Namun Hari Lebaran bukanlah hari khusus untuk bermaaf-maafan. Bermaaf-maafan harus dilakukan segera setelah kesalahan diperbuat dan tidak perlu menunggu Hari Lebaran. Dalam al-Hadits ditemukan perintah untuk berusaha dihalalkan dosa-dosa kita kepada saudara kita, yang berarti kita diminta untuk meminta maaf atau dimaafkan.

Dalam sebuah hadis Nabi saw. Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah saw, “Barangsiapa pernah melakukan kedzaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia memiliki amal shaleh, akan diambil darinya seukuran kedzalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibenankan kepadanya. (HR al-Bukhari). Kalau saya pribadi ucapan maaf akan terasa lebih melegakan jika langsung ditujukan ke orangnya dan disebutkan kesalahan yang diperbuat (bukan hanya bilang minta maaf lahir batin dan tidak tahu kesalahan apa yang dimintai maaf). Namun tentunya bermaaf-maafan di Hari Lebaran bukan sesuatu yang negatif.

2. Mudik untuk berkumpul bersama keluarga, apakah harus?

Mudik di Hari Lebaran untuk berkumpul bersama keluarga sudah menjadi agenda 'wajib' bagi mayoritas Muslim Indonesia. Tidak hanya bagi umat Muslim atau orang indonesia saja, di belahan bumi lainnya juga ditemukan budaya mudik saat hari libur atau hari raya tertent agar bisa dirayakan bersama keluarga dan menjalin silaturahmi dengan keluarga terutama bagi yang masih memiliki orang tua di daerah asal merupakan saat yang tepat untuk bertatap muka langsung. Namun tentunya tidak semua orang bisa melakukan mudik, dan tidak bisa mudik bukan sesuatu yang salah terutama bagi orang-orang yang tidak bisa meninggalkan kewajibannya seperti polisi, petugas medis dan pekerjaan lainnya yang biasanya berupa shift, bahkan mungkin yang tidak bisa mudik ini statusnya lebih mulia daripada yang mudik.

Mudik juga bisa menjadi sesuatu yang negatif jika mudik itu dipaksakan misalnya tidak memperhatikan kemampuan (harus hutang dll), tidak memperhatikan keselamatan terutama pengendara jarak jauh (terutama sepeda motor jarak jauh yang menurut saya terlalu amat sangat berisiko dan mengganggu) atau jika mudik bertujuan bukan mengedepankan silaturahmi melainkan mengedepankan pamer misalnya pamer kekayaan, pamer kesuksesan di perantauan, dll. Yang beginian mending mudiknya ke laut aje.

3. Bertawa ria bersama keluarga, tidak harus waktu lebaran saja dan jangan berlebihan

Biasanya saat Lebaran keluarga akan berkumpul dan banyak canda ria, mirip seperti pesta (ya memang ini pesta Hari Raya). Para anggota keluarga akan melakukan banyak aktivitas bersenang-senang bersama seperti main games, makan bersama, main kembang api dan yang paling umum adalah mengunjungi tempat wisata bersama (tak heran lokasi wisata dan mal-mal di daerah akan padat pengunjung saat Lebaran). Namun hendaknya kita tidak bersenang-senang berlebihan misalnya bermain petasan karena berbahaya (Alhamdulillah sekarang petasan sudah makin berkurang, mungkin sekarang lebih memilih main smartphone), main games (misalnya kartu) tapi pakai taruhan, makan berlebihan (hati-hati kolesterol, kenapa ya Lebaran harus identik dengan opor, bukan ikan bakar atau lainnya).

Dan satu hal yang perlu ditekankan adalah, berkumpul dan bertawa ria bersama keluarga bukanlah inti dari lebaran, karena itu bisa dilakukan kapan saja. Kita hendaknya sering-sering mengunjungi saudara-saudara kita dan sering bersilaturahmi, tidak hanya setahun sekali. Ingat keluarga adalah lingkungan sosial paling terdekat yang selamanya harus terjalin. Hal ini perlu ditekankan karena ssat ini masyarakat di era sekarang banyak yang lebih mengedapankan lingkungan sosial non keluarga dan nilai-nilai kekeluargaan di dalam keluarga sudah luntur.

4. Makan ketupat opor dan cookies sepuasnya, tetap jaga kesehatan

Lebaran ibarat hari berbuka orang yang telah melakukan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Banyak orang yang mengartikannya dengan 'makan sepuas-puasnya' saat Hari Lebaran. Tentunya segala yang berlebihan itu tidak baik termasuk makan terlalu banyak di Hari Raya, apalagi di Hari Raya banmyak makanan yang tidak seimbang gizinya. Karena itu kontrol diri dan kebijakasanaan perlu diterapkan sehingga mitos adanya penyakit yang melonjak setelah Lebaran yang diakibatkan makanan, kolesterol dan sejenisnya bisa dipatahkan.

Mungkin bisa juga kita ganti makanan pada saat Hari Lebaran dengan makanan yang lebih seimbang gizinya atau memperbanyak aktivitas fisik. Mumpung sedang bersama keluarga, aktivitas fisik tentunya akan lebih menyenangkan untuk dilakukan.

5. Memakai pakaian baru, jangan dipaksakan

Memakai pakaian yang bagus dan bersih tentunya sangat baik dan positif, namun tidak harus baru. Membeli pakaian baru juga tidak mengapa asalkan memang membutuhkan, mampu dan tidak berlebihan atau boros. Seringkali saat berlebaran banyak ditemui orang-orang memakai pakaian baru yang berlebihan dan terkadang dan agak norak. Padahal pakaian yang indah itu adalah pakaian yang sederhana (simple), rapi, sesuai dengan bentuk tubuh dan warna kulit. Pakaian yang berlebihan dan sangat ramai justru menjadi tidak indah. Jadi intinya membeli pakaian baru jangan dipaksakan. Membeli pakaian baru di Hari Lebaran sebaiknya dihindari jika: sudah punya banyak, tidak akan sering dipakai, dan harus hutang.

Bagi orang yang mampu terkadang sampai memiliki banyak pakaian di dalam lemari dan seringkali banyak yang tak terpakai dan tidak terawat (sampai bau sekali di lemari). Tentunya ini tidak baik kecuali bagi artis atau public figure yang memang mengharuskan gonta-ganti pakaian dengan frekuensi yang tinggi. Belilah barang yang Anda yakin Anda pasti memakainya dan bisa merawatnya. Hal ini juga berlaku saat membeli barang baru non pakaian.

6. Bagi-bagi angpao, jangan lupa bayar zakat

Bagi-bagi angpao ke sanak saudara yang lebih muda juga telah menjadi tradisi di Hari Lebaran entah sejak kapan. Tentu tidak mengapa dilakukan asalakan tidak berlebihan dan tidak lupa membayar zakat fitrah. Bagi saya pribadi sebenarnya tidak begitu menyukai memberikan uang kepada anak-anak, saya lebih suka memberi barang atau kado bingkisan karena uang sering disalahartikan anak-anak sehingga mereka jadi mata duitan. Tapi tidak mengapa jika memang si anak lebih membutuhkan uang toh cari-cari kado juga bisa merepotkan dan kado tersebut belum tentu disukai si anak. Mungkin bisa juga diganti dengan emas, agar anak belajar berinvestasi :)

7. Kirim ucapan lebaran, bedakan dengan update status

Saat lebaran tentu kita ingin mengucapkan salam atau selamat lebaran kepada semua saudara, keluarga, sahabat, dan kerabat lainnya. Namun jika mereka ada di tempat yang jauh kita bisa mengirimkannya lewat media. Kalau dulu ada media kartu lebaran yang saat ini posisinya sudah tertelan jaman tergantikan oleh SMS dan internet. Walaupun sebenarnya media SMS akan membuat HP menjadi full dan jaringan lambat (kalau jaman sekarang dah nggak kali ya) tapi karena komunikasinya bersifat langsung ke seseorang maka ini baik untuk menjaga silaturahmi. Walaupun isinya tidak akan dibaca semua tapi si penerima sudah langsung ngeh kalau ini salam lebaran. Ini berbeda jika hanya update status salam lebaran di social media tanpa mention seseorang maka nilai silaturahminya akan kurang dan message kurang tersampaikan (kecuali jika dilakukan di group).

Lalu apa bunyi ucapan selamat Lebaran? Yang banyak dicontohkan adalah “taqobbalallahu minna wa minkum” artinya "semoga Allah menerima amalku dan amal kalian". Sebenarnya tidak ada ucapan tertentu saat Lebaran. Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung kesalahan (dosa). Dan satu lagi, “minal ‘aidin wal faizin” artinya bukanlah "mohon maaf lahir dan batin".

8. Hari Raya datang, tapi Ramadhan berlalu

Saat Hari Raya datang ini berarti Bulan Ramadhan telah berlalu. Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang penuh ketaqwaan, bulan dimana pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu, dan bulan dimana dalam 10 hari terakhirnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Apakah kita sudah menanfaatkan Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya? kita bisa introspeksi diri. Semoga kita berjuma dengan Ramadhan berukutnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri .....

Postingan terkait: