Sosok Bawor sebagai Simbol Banyumas

Bawor adalah salah satu tokoh wayang yang menjadi simbol wilayah Banyumas dan sekitarnya. Bawor sendiri dalam cerita pewayangan merupakan bagian dari Punakawan, di wilayah Jawa (Yogyakarta, Solo dsb) tokoh ini disebut dengan nama Bagong dan di wilayah Sunda tokoh ini disebut dengan nama Cepot.


Timbul pertanyaan mengapa Bawor yang dijadikan simbol. Apakah Bawor memiliki karakter yang sama dengan masyarakat Banyumas pada umumnya? Jika bercerita tentang karakter suatu masyarakat maka tak lepas dari budaya masyarakat itu sendiri. Lalu apa budaya orang Banyumas itu, apakah budaya Jawa? Dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan, budaya Banyumas merupakan lokus budaya tersendiri yang dapat dibedakan dari budaya induknya, yaitu budaya Jawa. Kebudayaan Banyumas merupakan percampuran yang sangat kental antara budaya Jawa dan Sunda yang sangat dipengaruhi oleh masuknya kebudayaan Hindu-Budha, Islam, Tionghoa dan budaya Barat. Dalam wacana cultural encounter, berbagai kutub budaya tersebut telah saling bertemu di wilayah Banyumas yang merupakan daerah marginal survival. Oleh karena itu budaya Banyumas hadir dalam nuansa kerakyatan yang memiliki warna-warna tertentu di dalamnya seperti warna Jawa, Sunda, Hindu-Budha, Islam, Tionghoa dan Barat.

Singkat cerita, budaya Banyumas adalah hasil dari multikulturalisme yang tumbuh di lingkungan yang jauh dari pusat "kerajaan" atau "pemerintahan" sehingga di wilayah ini tidak dikenal kasta, darah biru, priyayi dan sejenisnya. Wilayah ini adalah wilayah yang egaliter dan sangat dekat dengan alam dan sangat bersifat kerakyatan atau "wong cilik" sehingga sangat kenal dengan budaya lugu dan jujur namun bukan berarti bodoh, justru kebalikannya yakni memiliki kecerdasan termasuk kecerdasan emosi, spiritual, dan intelektual.

Begitu pula watak Bawor yang lugu, jujur dan mbodho. Sebagai sosok punakawan, Bawor tidak menunjukkan kecerdasanya, maka ia mbodho atau pura-pura bodoh. Dalam lakon-lakon pekeliran gagrak Banyumas sering digambarkan gaya akal-akalan Bawor dalam menyiasati mencari solusi untuk mengakhiri gara-gara menjadi happy ending. Jadi kecerdasan Bawor dikemas dalam gaya semblothongan atau dablongan. Sifat inilah yang menjadkan dia dipercaya.

H. Budiono Heru Satoto dalam bukunya Banyumas Sejarah, Budaya dan Watak memaparkan bahwa Bawor memiliki gambaran watak :
1. Sabar dan nrima, apa adanya dalam kehidupan kesehariannya.
2. Berjiwa kestria (jujur, berkepribadian baik, toleran) rukun, suka membantu orang lain, mengutamakan kepentingan umum.
3. Cacutan (rajin dan cekatan).
4. Cablaka, lahir batinnya terbuka terhadap pertimbangan yang matang dari apa yang diucapkan secara spontan dengan bahan yang lugas, tanpa tedheng aling-aling atau eufenisme.

Spirit Bawor adalah gambaran empat watak seperti di atas. Spirit ini merupakan gambaran masyarakat Banyumas yang berada di luar kelompok Nagari Gung dan masuk ke kultur adoh ratu cedhek watu. Jadi jika Anda bertemu dengan orang yang kelihatannya polos, suka ndagel, dablongan dan kelihatan tidak intelektual bisa jadi sebenarnya dia memiliki karakter yang sama dengan Bawor yang cerdas (ingat orang yang suka humor adalah orang yang memiliki intelektual tinggi), rajin, jeli, berjiwa kesatria, dan solutif. Orang-orang seperti ini rela dirinya tampak seperti orang bodoh karena memiliki sifat toleran yang sangat tinggi sehingga tidak mau ada konflik dan tidak ragu untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Orang-orang seperti ini biasanya dikenal dengan pribadi yang menyenangkan.

Mungkin sifat seperti Bawor inilah yang saat ini sangat diperlukan di tengah-tengah kehidupan modern yang makin individualitstis, penuh gengsi, penuh ambisi, penuh emosi, dan miskin jiwa ksatria. Orang-orang dengan sifat seperi Bawor ini akan menjadi oase di tengah masyarakat yang makin rapuh mentalnya. Tentu menjadi orang dengan karakter seperti ini memiliki risiko tidak dianggap keren dan tidak bergengsi, namun jika memiliki karakter ini akan memiliki banyak kelebihan yakni dipercaya, dibutuhkan, dicari, dan disenangi oleh banyak orang.

Mencari Sisi Lain Jakarta di Museum Taman Prasasti

Jakarta memiliki potensi yang sangat besar sebagai tujuan wisata yang menonjol. Wisata yang paling tersohor di kota ini adalah wisata belanja, wisata budaya populer, dan wisata bisnis. Ini artinya kota ini menjadi magnet wisatawan karena mal-malnya, event-eventnya (seperti pameran, pertunjukan musik dll), dan peluang bisnisnya yang sangat luas. Tapi lama kelamaan rasa jenuh bisa muncul jika tiap saat hiburan yang disuguhkan adalah hiburan-hiburan modern dan populer yang biasanya mahal dan jauh dari keteduhan hati. Sekali-kali warga Jakarta perlu mencari sisi lain dari Jakarta dimana kita bisa mendapatkan atmosfer yang berbeda. Salah satu tempat yang mungkin bisa dijadikan pilihan adalah jalan-jalan ke Museum Taman Prasasti.


Saya yakin dari sekian banyak warga Jakarta dan sekitarnya pasti masih banyak yang belum pernah mendengar nama Museum Taman Prasasti, Padahal museum ini terletak tepat di tengah-tengah kota Jakarta. Lalu apa yang menarik dari museum ini? Apa yang bisa dilihat-lihat ketika jalan-jalan ke sini? Jawabannya adalah pemakaman .... Jreng-jreng pasti banyak orang enggan dan berpikir "ngapain jalan-jalan kok ke kuburan" eits tunggu dulu, Museum Taman Prasasti memang betul adalah sebuah area pemakaman, tapi pemakaman ini sungguh berbeda dari kebanyakan pemakaman. Museum ini memiliki berbagai macam nisan yang mayoritas bergaya kolonial Belanda yang sangat indah dan penuh seni. Bagi Anda yang suka budaya, keindahan, seni apalagi sejarah dan fotografi maka wajib untuk mengunjungi museum ini. Tidak perlu takut, walaupun berupa areal pemakaman namun sudah lama sekali tidak aktif dan bentuknya pun seperti taman dan ditambah lagi letaknya yang berada di pusat kota Jakarta.



Museum Taman Prasasti didirikan di bekas pemakaman kuno yang telah beroperasi sejak tahun 1795 yang dikenal sebagai Kebon Jahe Kober. Dahulu pemakaman ini diperuntukkan bagi para bangsawan dan pejabat tinggi Belanda pada masa VOC berkuasa di Batavia, namun seiring dengan waktu juga dipergunakan oleh umum terutama mereka yang beragama nasrani. Sejak tahun 1975, pemakaman ini ditutup dan kemudian dipugar dan diresmikan penggunaannya sebagai museum pada tahun 1977 oleh Gubernur DKI kala itu, Bapak Ali Sadikin. Pada Agustus tahun 2003 museum yang terletak di Jl. Tanah Abang I No. 1 Jakarta Pusat ini bergabung dengan Museum Sejarah Jakarta dalam satu manajemen.

Museum Taman Prasasti menjadi bukti sisa pemakaman umum dari akhir abad ke-18, dengan koleksi nisan makam abad ke-16 dan ke-17. Museum ini juga sangat berharga sebagai tempat yang memberi kesaksian mengenai komposisi penduduk Batavia yang berasal dari seluruh dunia. Anda akan menemukan beberapa nama yang dituliskan di nisan berasal dari seluruh dunia seperti Amsterdam, Brooklyn (AS) dsb. Nisan dan arsitektur yang ada di museum ini sangat menarik karena bergaya klasisisme, neo-gotik, dan Hindu-Jawa.







Di museum ini pengunjung dapat mempelajari latar belakang orang yang disebut pada nisan dan kaitannya dengan sejarah kota Jakarta. Sekarang ini lokasi museum juga ditumbuhi berbagai pohon yang rindang sejuk dan damai karena selain fungsi preservasi nilai historik, museum ini juga memiliki fungsi sosial dan pelestarian alam, dimana taman yang luas ini difungsikan sebagai paru-paru kota dan juga fungsi sosial lainnya.










Keunikan Kuliner Bunga yang Bisa Dimakan

Indonesia adalah negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang sangat amat tinggi dan merupakan salah satu yang tertinggi di planet ini. Negara kepulauan tropis yang meliputi 17.000 pulau seluas 1,904,560 km persegi ini memiliki keanekaragaman mamalia, reptil, amfibi, burung, dan flora termasuk bunga. Keanekaragaman hayati ini dimanfaatkan oleh manusia yang tinggal di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta orang dengan berbagai latar budaya. Tentu dengan kondisi yang seperti ini Indonesia memiliki berbagai macam hasil pemanfaatan hayati yang beranekaragam jenisnya termasuk dalam hal ini adalah pemanfaatan di bidang kuliner yang menjelma menjadi kuliner nusantara yang sangat majemuk.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, Indonesia memiliki keanekaragaman flora yang tinggi termasuk bunga,  negeri ini memiliki 10% dari tanaman berbunga di dunia. Mayoritas orang Indonesia memanfaatkan bunga sebagai tanaman hias, dekorasi, upacara adat, dan wangi-wangian. Namun pemanfaatan bunga sebagai bagian dari kuliner belum terlalu populer di kalangan masyarakat negeri ini. Mungkin karena masyarakat berpandangan bahwa bunga itu tidak bisa dimakan. Sebenarnya pemahaman yang sama juga masih dipakai oleh sebagain besar penduduk bumi yang memang dari dulu tidak menganggap bunga sebagai bahan makanan utama. Namun perlu diketahui bahwa banyak jenis-jenis bunga yang bisa dimakan. Bahkan saat ini pemakaian bunga yang bisa dimakan atau dalam Bahasa Inggris disebut sebagai edible flower ini tengah naik daun sebagai bagian dari kuliner modern yang populer yang berasal dari barat.


Dengan rasa yang kuat serta tekstur dan warna yang unik, bunga yang dapat dimakan telah mendapatkan popularitas sebagai bahan yang kreatif dan inovatif untuk ditambahkan dalam makanan. Tujuan utama penambahan bunga ke makanan adalah untuk memberikan rasa, aroma, dan warna. Bunga bisa disajikan dalam hidangan utama, salad, atau makanan penutup. Bunga dapat juga digunakan hiasan atau garnish dalam makanan. Selain itu bunga juga dapat dimasukkan ke dalam minuman sebagai penyedap atau digunakan untuk membuat teh. Beberapa jenis bunga juga dikeringkan dan digunakan sebagai makanan yang berkhasiat.


Untuk rasa terbaik, bunga sebaiknya disajikan dalam keadaan segar. Bunga yang sudah layu seringnya berasa pahit. Banyak bunga dapat dimakan utuh, tetapi beberapa memiliki bagian pahit, seperti benang sari dan batang. Perlu diingat juga bahwa ada pula jenis bunga yang dapat dimakan namun hanya dalam takaran tertentu karena bisa menyebabkan masalah kesehatan jika dikonsumsi melebihi dari yang seharusnya atau dengan kata lain beracun. Beberapa bunga yang beracun bahkan ada yang mirip sekali bentuknya dengan bunga yang bisa dimakan dan sering kali memiliki nama umum atau sebutan yang sama dengan bunga yang bisa dimakan karena itu perlu kehati-hatian yang tinggi dalam memilihnya. Bunga yang dibudidayakan sebagai tanaman hias biasanya juga tidak ditujukan untuk digunakan sebagai makanan.

Lalu bagaimana dengan bunga-bunga Indonesia?
Mayoritas bunga yang bisa dimakan yang dijual di Indonesia adalah bunga-bunga yang umumnya tidak tumbuh di Indonesia atau dengan kata lain masih impor. Jumlahnya pun terbatas dan biasanya harganya mahal. Untuk bunga khas Indonesia sendiri nampaknya belum banyak penelitian yang dapat menunjukkan bunga apa saja yang bisa dimakan. Mayoritas pemakaian bunga yang sudah ada biasanya digunakan untuk obat herbal atau teh yang juga belum populer. Sebenarnya hal ini merupakan sebuah kesempatan untuk memperkaya kuliner Indonesia sekaligus untuk memperkenalkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang unik serta kuliner yang khas.

Bahasa Daerah pada Papan Nama Jalan di Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat multikultur karena memiliki beraneka budaya mulai dari budaya Jawa, Sunda, Melayu, Minangkabau, Batak, Dayak, Bali, Bugis, Papua, Tionghoa dsb. Keanekaragaman budaya ini terjadi karena budaya asli Indonesia yang banyak dan ditambah pengaruh dari luar mengingat negeri ini terletak di jalur perdagangan yang ramai dan semua keanekaragaman budaya ini telah menghasilkan berbagai wujud keanekaragaman khas Indonesia seperti kuliner nusantara, adat, bahasa dan sebagainya.

Bicara tentang bahasa ternyata Indonesia adalah negeri dengan jumlah bahasa asli yang sangat banyak. Memang Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa nasional dan digunakan oleh seluruh warga Indonesia terutama dalam lingkup formal, namun sebagian besar warga negara Indonesia menggunakan bahasa Ibu (mother tounge) dalam sebagian aktivitas di kehidupan sehari-hari. Bahasa Ibu ini sering kita sebut juga dengan bahasa daerah walaupun belum tentu merujuk ke suatu daerah tertentu mengingat persebaran dan percampuran suku di seluruh daerah di Indonesia sudah terjadi sejak lama.

Bahasa ibu ini ternyata juga memiliki bentuk penulisan dan aksara sendiri. Ya betul sekali, huruf latin atau alfabet yang saat ini dipakai oleh bangsa kita merupakan bentuk adopsi setelah mendapat pengaruh dari barat. Bila Anda cermati semua negeri di Asia memiliki bentuk huruf atau aksara sendiri seperti huruf Kanji, Mandarin, Thai, Hindi dsb. Sebenarnya Indonesia juga sama, dulunya orang Indonesia menggunakan tulisannya masing-masing seperti huruf Jawa, Sunda dsb namun karena negeri kita dan beberapa negara tetangga terletak di persimpangan dunia maka pengaruh multikukturalisme lebih terasa daripada wilayah lainnya di Asia.

Tulisan-tulisan atau huruf-huruf bahasa Ibu atau bahasa daerah saat ini sudah semakin jarang dipakai, namun uniknya kita masih bisa melihat huruf-huruf ini di papan nama terutama nama jalan di berbagai kota di Indonesia. Penggunaan huruf atau aksara bahasa Ibu ini diletakan di bawah huruf latin yang merupakan huruf yang dipakai dalam Bahasa Indonesia. Di bawah ini rinciannya.


Tulisan Huruf Jawa di Yogyakarta
Budaya Jawa adalah salah satu budaya terbesar di Indonesia dan Yogyakarta adalah salah satu pusat budaya Jawa. Di kota ini Anda dapat melihat bahwa tulisan huruf Jawa dijumpai di semua jalan di kota ini termasuk pada papan nama jalan yang paling terkenal yakni Jalan Malioboro. Bisa dibilang kota Yogyakarta adalah perintis dan yang paling awal dalam penggunaan papan nama jalan dengan penambahan huruf asli budaya setempat. Selain di Yogyakarta, tulisan huruf Jawa juga dipakai di papan nama jalan di kota Surakarta yang merupakan salah satu kota dengan budaya Jawa paling kental.


Tulisan Huruf Sunda di Bandung
Masih berada di Pulau Jawa, kota Bandung juga menggunakan tulisan huruf asli daerah yakni huruf Sunda di beberapa papan nama jalan. Seperti kita ketahui Bandung adalah ibu kota Jawa Barat yang merupakan tanah Sunda. Sayangnya muncul isu bahwa beberapa penulisan huruf Sunda tidak tepat dan bunyinya tidak sama dengan huruf latin. Mudah-mudahan tulisan ini bisa segera diperbaiki. Selain kota Bandung, kota Bogor juga menambahkan huruf Sunda dalam penulisan papan nama jalan.


Tulisan Huruf Melayu di Pekanbaru
Kota Pekanbaru di Provinsi Riau merupakan salah satu kota paling multikultur di Indonesia. Kota terbesar dari salah satu provinsi terkaya di Indonesia ini dihuni oleh berbagai suku dan suku asli di wilayah ini adalah Melayu yang menggunakan huruf Jawi sebagai tulisannya. Huruf Jawi atau huruf Melayu ini adalah tulisan Arab gundul dengan pengucapan Bahasa Melayu. Tulisan huruf Jawi ini dijumpai di papan nama jalan diseantero Pekanbaru bahkan di seluruh Riau.


Tulisan Huruf Tionghoa di Bagansiapiapi
Masih berada di Provinsi Riau, Bagansiapiapi memiliki keunikan tersendiri karena budaya Tionghoa sangat terasa kental di kota ini. Kota yang pernah menjadi penghasil ikan terbesar di Indonesia ini menggunakan tulisan huruf Tionghoa di papan nama jalan selain juga menggunakan huruf latin dan huruf Melayu. Uniknya lagi jika papan nama jalan di Indonesia umumnya berwarna hijau dengan warna tulisan putih, di kota ini papan nama jalan berwarna kuning dengan warna tulisan hitam, sungguh unik.


Tulisan Huruf Bali di Denpasar
Untuk mendukung keberadaan Kota Denpasar sebagai kota berwawasan budaya, pemasangan papan nama jalan juga menjadi pertimbangan salah satunya dengan penambahan tulisan huruf Bali. Saat ini peremajaan papan nama jalan di kita pariwisata dan budaya ini telah menggunakan penambahan huruf Bali. Huruf yang dipakai di papan nama jalan Denpasar ini cukup mirip dengan huruf yang dipakai di Yogyakarta, hal ini tidak aneh karena huruf Bali berkerabat dekat dengan dengan huruf Jawa.


Tulisan Huruf Lontara di Makassar
Kota terbesar di Sulawesi sekaligus Indonesia bagian timur ini menggunakan huruf Lontara pada papan nama jalannya. Huruf Lontara merupakan aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Konon aksara ini banyak dipakai pada jaman Kerajaan Gowa-Tallo. Huruf khas Makassar ini unik karena berbentuk siku seperti tanda staccato dalam musik (^) maupun kebalikannya dan variasi dari keduanya. Penulisan nama jalan dalam aksara setempat ini hanya berlaku di kota Makassar saja dan belum diterapkan di daerah lain di Sulawesi Selatan. Di Makassar sendiri belum semua jalan diberikan huruf Lontara di sebelah bawah huruf latin.


Tulisan Huruf Hangeul di Bau Bau
Di Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara tepatnya di kota Bau-bau, terdapat sebuah suku, yakni Suku Cia Cia, yang menggunakan huruf Hangeul yang merupakan huruf abjad yang digunakan di Korea untuk menuliskan bahasa daerahnya. Suku Cia Cia menggunakan huruf Hangeul untuk melestarikan bahasa daerahnya. Bahasa Cia Cia jika ditulis dalam huruf latin banyak kata-kata yang tidak dapat ditulis dan jika ditulis dengan huruf Arab gundul akan berubah maknanya. Untuk mencegah punahnya bahasa lokal ini, maka huruf Korea ini yang digunakan untuk menuliskannya. Penggunaan huruf ini juga terlihat di papan nama jalan kota ini.


Tulisan Bahasa Belanda di Malang
Kota Malang memiliki papan nama jalan yang juga unik. Belum lama ini papan nama jalan di kota ini dipercantik dengan tambahan tulisan masih dalam huruf latin namun menggunakan Bahasa Belanda. Pada zaman Belanda dulu, tepatnya pada tahun 1924 - 1928, nama jalan di Kota Malang banyak yang mirip dengan nama yang sekarang. Bedanya tentu saja terletak pada penggunaan imbuhan -straat, -weg, atau -plein pada akhir katanya. Jika diartikan dalam Bahasa Inggris, straat berarti street, weg berarti road, dan plein berarti square. Penggunaan Bahasa Belanda mempunyai nilai dan hubungan sejarah berdirinya kota Malang. Dengan adanya papan nama ini masyarakat dan pengunjung kota Malang seakan diajak kembali ke jaman dahulu.

Jalan-jalan ke Bagansiapiapi, Rokan Hilir

Apakah Anda pernah mendengar kota bernama Bagansiapiapi? Bagi Anda yang tinggal di Sumatera pasti sudah mengenal kota ini. Bagi Anda yang tidak tinggal di Sumatera mungkin sebagian besar pernah mendengar nama kota ini melalui pelajaran geografi di masa sekolah sebagai kota yang pernah menjadi penghasil ikan terbesar di Indonesia atau mungkin pernah mendengar nama kota ini di acara TV wisata melalaui event tahunan bakar tongkang.


Bagansiapiapi, juga dikenal sebagai Bagan adalah suatu kota yang terletak di Provinsi Riau dan merupakan ibu kota dari Kabupaten Rokan Hilir. Jika Anda lihat di peta letak kota ini terletak di provinsi Riau bagian utara sudah hampir mendekati perbatasan Sumatera Utara. Kota Bagansiapiapi terletak di muara Sungai Rokan, di pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir, dan merupakan tempat yang strategis karena berdekatan dengan Selat Malaka yang merupakan lalu lintas perdagangan internasional. Selain sebagai ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, Bagansiapiapi juga merupakan ibu kota Kecamatan Bangko, bagi Anda yang pernah mendengar lapangan minyak bumi Bangko, kota ini tidak jauh dari lapangan minyak tersebut.

Banyak yang tidak tahu bahwa kota Bagansiapiapi memiliki keunikan yang sungguh tiada tara di bumi Indonesia ini. Paling tidak ada empat hal yang membuat kota ini unik.

Pertama, Bagansiapiapi adalah ibukota dari kabupaten yang dijuluki sebagai negeri seribu kubah. Tidak seperti wilayah Riau lainnya, Rokan Hilir memiliki banyak sekali bangunan-bangunan yang memiliki kubah walaupun bangunan itu bukan Masjid. Bagi orang yang pertama kali ke Rokan Hilir biasanya tercengang-cengang mengapa hampir setiap bangunan besar memiliki kubah dan hal seperti ini tidak bisa ditemui di wilayah lainnya di Indonesia. Kubah ini menjadikan Bagansiapiapi dan Rokan Hilir sebagai kota atau kabupaten dengan karakter kuat. Bahkan ada salah satu kawasan baru di kota ini yang bernama kawasan Batuenam yang merupakan komplek perkantoran pemerintahan, sekaligus diharapkan menjadi sentra bisnis yang memiliki gedung-gedung wah dan berkubah, bahkan ada yang mirip dengan gedung putih di Amerika Serikat. Pembangunan ini menjadikan kota Bagansiapiapi yang dulunya dianggap kota yang tua menjadi modern dan kekinian. Berikut ini adalah salah satu petikan Dahlan Iskan saat mengunjungi Bagansiapiapi “Saya benar-benar dibuat terkejut oleh perkembangan kota tua ini. Bagansiapiapi ternyata lagi membangun diri secara besar-besaran...”






Kedua, Bagansiapiapi adalah kota yang memiliki budaya Tionghoa yang sangat kuat namun terasa cukup berbeda dengan suasana Tionghoa yang ada wilayah Indonesia lainnya seperti Pekanbaru, Medan, Semarang, Jakarta dsb. Kelenteng bertebaran banyak di kota ini, di setiap jalan hampir selalu ada kelenteng baik kelenteng marga maupun kelenteng untuk memuja dewa/dewi tertentu. Tak heran kota ini juga dijuluki kota seribu Kelenteng, ada pula yang menyebutnya Hong Kong van Andalas. Ritual tahunan bakar tongkang yang sangat tersohor diseantero nusantara pun merupakan budaya Tionghoa yang tidak bisa ditemui dimanapun. Selain Tionghoa, budaya Melayu juga cukup terasa kental disini. Ya, Riau memang dikenal dengan budaya Melayu dan Tionghoa yang kuat, namun uniknya, jika di Pekanbaru dan Duri (dua kota terbesar yang terdekat) banyak mendapat pengaruh dan agak tertelan oleh budaya Minangkabau, Jawa dan Batak, di Bagansiapiapi kita bisa merasakan budaya Melayu dan Tionghoa yang lebih murni. Bahkan jalan-jalan di kota ini ditulis dalam tiga huruf yakni huruf Latin, Jawi atau Arab gundul (Melayu), dan Mandarin (Tionghoa).







Ketiga, Bagansiapiapi terletak di tepi laut tepatnya Selat Malaka dan dulu terkenal sebagai penghasil ikan terpenting dan terbesar di Indonesia, sehingga dijuluki sebagai kota ikan. Menurut beberapa sumber, di antaranya surat kabar De Indische Mercuur menulis bahwa dulu Bagansiapiapi adalah kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah kota Bergen di Norwegia. Walaupun tidak lagi menyandang predikat tersebut namun sektor perikanan masih terasa kuat di kota ini. Tentunya seafood jadi andalan utama bagi wisatawan. Sekedar saran, jika Anda hendak hunting seafood di kota ini sebaiknya jangan mencari ikan-ikan yang dibakar tapi carilah seafood khas Tionghoa seperti sup ikan laut, ikan goreng / tumis berbumbu saus dsb, dijamin segar dan hauche.



Keempat, Bagansiapiapi merupakan kota muara sungai Rokan yang merupakan salah satu sungai terbesar di Riau. Terdapat dua jembatan yang sangat cantik di kota ini yang bernama jembatan Pedamaran 1 dan 2. Jembatan ini rencananya akan mempermudah jalur ke Sumatera Utara, bentuk jembatan ini sangat cantik dan fotogenik.






Satu hal yang menjadi kelemahan kota Bagansiapiapi adalah aksesnya yang cukup jauh. Dua kota terdekat dari Bagansiapiapi adalah Duri (Mandau) dan kota Dumai. Jarak Duri ke Bagansiapiapi kurang lebih 2,5 jam perjalanan darat. Jarak Duri ke Pekanbaru kurang lebih 3 sampai dengan 3,5 jam perjalanan darat jika lancar. Jadi jika dijumlahkan jarak Pekanbaru ke Bagansiapiapi melalui perjalanan darat adalah 6 jam atau lebih (tergantung kondisi lalu lintas jalan). Sebenarnya ada bandara juga di kota Dumai namun penerbangannya masih terbatas. Jika diakses dari kota Medan maka waktu tempuhnya akan lebih lama lagi. Penulis sendiri adalah warga Duri sehingga bisa berwisata ke Bagansiapiapi dengan mudah bahkan tanpa menginap (pergi dan balik hari), namun untuk Anda yang berada di Pekanbaru, Medan, atau bahkan dari Jawa dan wilayah lainnya di Indonesia perlu untuk mengatur perjalanan ke Bagansiapiapi sedemikan rupa. Perlu dicatat juga bahwa kota ini tidak terletak di jalan utama Pekanbaru-Medan. Bagi Anda yang sedang menempuh perjalanan darat Pekanbaru-Medan jangan berpikir untuk bisa mampir sebentar saja di kota ini karena jarak kota ini ke jalur utama Pekanbaru-Medan (tepatnya di pertigaan Ujung Tanjung) masih 1,5 jam.

Namun jangan khawatir, kota ini betul-betul menyajikan suasana yang sangat berbeda dengan kota lain di Indonesia. Mungkin ada yang beranggapan bahwa kota Bagansiapiapi adalah kota yang kental budaya Tionghoa, palingan sama dengan Pekanbaru atau Medan, eits tunggu dulu menurut pengamatan penulis bahkan orang Riau sekalipun yang baru pertama kali ke kota Bagansiapiapi akan takjub dengan suasana yang berbeda dari kota ini. Terutama bagi Anda yang sangat gemar dengan wisata budaya, Anda akan mendapatkan pengalaman tak terlupakan di kota kecil nan unik ini. Pengalaman Anda mungkin akan meningkat berkali lipat asyiknya jika kunjungan ke Bagansiapiapi bertepatan dengan event tahunan bakar tongkang.

Yo-Kai Watch, Hantu Lucu dan Penuh Warna

Yo-Kai Watch adalah video game bertemakan hantu Jepang yang dapat dimainkan di konsol Nintendo 3DS. Yo-Kai dalam bahasa Jepang berarti hantu, monster legenda, atau siluman, kalau di Indonesia mungkin disebut jin. Game ini menceritakan seorang anak bernama Nate atau Nathan (versi Jepang: Keita) yang memperoleh Yo-Kai watch, sebuah alat berbentuk jam tangan yang dengan alat ini dia bisa melihat dan mengidentifikasi Yo-Kai (hantu-hantu) yang ada di sekitarnya yang secara normal tidak kasat mata. Uniknya hantu-hantu disini digambarkan dalam bentuk animasi yang lucu, imut, dan penuh warna sehingga menjadikan anak-anak tidak perlu takut terhadap hantu.


Dengan menggunakan Yo-Kai watch ini, Nate bisa berkomunikasi dan berteman dengan hantu-hantu ini atau bahkan bisa melawan hantu-hantu yang merugikan / jahat. Hantu-hantu yang sudah dijadikan teman dapat dipanggil melalui medal dan bisa dimintai tolong sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Kemampuan hantu-hantu ini bukan untuk menyerang orang secara fisik seperti halnya Pokemon aau Digimon (walaupun konsepnya mirip), namun kemampuannya lebih berkaitan dengan kognisi, perasaan, dan perilaku seseorang. Misalnya ada hantu yang membuat orang jadi malas, ada yang membuat orang jadi selalu merasa lapar, ada yang membuat orang jadi penuh semangat, ada yg membuat orang jadi tidak bisa menahan keinginannya, ada yang membuat orang jadi mempunyai selera humor dan sebagainya.

Game ini sangat menarik, selain karena animasi dan desain karakternya yang menarik dan penuh warna, permainannya pun tidak kalah seru. Dalam game ini kita bisa menikmati sensasi RPG sambil berkeliling di sebuah kota khas Jepang seperti di game GTA (versi simple dan cute) yang dilengkapi perumahan, kantor-kantor, pasar, sekolah, dan bahkan bukit di belakang sekolah yang sangat khas di komik-komik Jepang sambil menyelesaikan masalah-masalah penduduk kota yang berkaitan dengan Yo-Kai.


Terdapat berbagai macam item, dan fitur-fitur unik lainnya. Hampir mirip dengan Pokemon kita juga bisa hunting Yo-Kai (hantu-hantu) yang jumlahnya sangat banyak, bermacam-macam, dan berbagai level di seluruh penjuru kota baik siang atau malam hari dan mencoba berteman dengan mereka, beberapa Yo-Kai bahkan bisa berevolusi (yup sekali lagi untuk hal ini mirip Pokemon atau Digimon).


Karena saking banyaknya hal yang bisa dieksplor di game ini menjadikan gamer tidak bosan untuk memainkannya. Tidak hanya untuk anak kecil, orang dewasa pun bisa ketagihan memainkan game ini. Tak aneh jika game ini menuai kesuksesan bahkan sampai dibuatkan manganya dan diangkat ke anime layar kaca.

Sebenarnya ada satu hal lagi yang menarik dari Yo-Kai Watch ini yakni adanya kemiripan budaya dengan Indonesia dimana di negeri kita juga memiliki tradisi, budaya dan kepercayaan yang kuat berkenaan dengan hantu, siluman, dan sebagainya. Sebenarnya game ini mirip dengan acara-acara uji nyali, menangkap hantu, mendeteksi hantu, memburu hantu dan sebagainya yang banyak digemari di negeri kita, hanya saja di game ini semuanya disajikan dalam bentuk animasi imut dan penuh warna. Sisi positifnya adalah kita jadi tidak perlu takut terhadap hantu yang biasanya digambarkan seram, namun sisi negatif dari game ini adalah mengajarkan hal-hal yang dilarang seperti berteman dengan jin dan memanfaatkan jin. Ambil sisi positifnya saja ya... :)